BERBAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahasa
adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena
dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa
merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat.
Adapun bahasa
dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat
hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita
dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa/berbicara apabila
kita mendengarkan dengan baik apa yang diakatakan. Untuk itu keseragaman
berbahasa sangatlah penting, supaya komunikasi berjalan lancar.
Maka
daripada itu bangsa Indonesia pada tahun 1945 menetapkan bahasa
Indonesia sebagai bahasa negara yang dituangkan dalam Undang-Undang
Dasar 1945, dan sampai sekarang pemakaian bahasa Indonesia makin meluas
dan menyangkut berbagai bidang kehidupan.
Kita sebagai generasi muda,
marilah kita pelihara bahasa Indonesia ini, memgingat akan arti
pentingya bahasa untuk mengarungi kehidupan masa globalisasi, yang
menuntuk akan kecerdasan berbahasa, berbicara, keterampilan menggunakan
bahasa dan memegang teguh bahasa Indonesia, demi memajukan bangsa ini,
supaya bangasa kita tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Maka
dari itu disini penulis akan mencoba menguraikan tentang “Berbahasa Yang
Baik Dan Benar”
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah tata bunyi, tata bahasa, kosa kata, ejaan dan makna dalam bahasa Indonesia?
2. Apa sebenarnya bahasa yang tearatur dan kalimat yang benar itu?
3. Bagaimana ragam dalam bahasa Indonesia?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Secara Umum
Untuk mengetahui bagaimana cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
2. Tujuan Secara Khusus
1.
Mengetahui bagaimana penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
itu, seperti tata bunyi, tata bahasa, kosa kata, ejaan dan makna dalam
bahasa Indonesia.
2. Mengetahui bagaimana kalimat yang benar itu dan bahasa yang teratur itu.
3.
Mengetahui berbagai ragam dalam bahasa Indonesia, seperti ragam daerah,
ragam bahasa terpelajar, ragam bahasa resmi dan tidak resmi.
1.3. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Manfaat
penelitian ini dapat mengetahui bagaimana cara penggunaan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan EYD.
2. Secara Praktis
1. Mampu membantu mahasiswa dalam menyusun skripsi.
2. Membantu mahasiswa dalam berkomunikasi secara benar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Variasi Bahasa
Manusia merupakan mahluk sosial, oleh karenanya manusia melakukan
interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat.
Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat
komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk
kelompok sosial, sebagai pemenuhan terhadap kebutuhannya untuk hidup
bersama.
Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat
secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini
sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah
anggota dari kelompok sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat
aturan yang disepakati dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang
terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa.
Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya
berbeda. Dari adanya kelompok-kelompok sosial tersebut, menyebabkan
bahasa yang dipergunakan bervariasi. Kebervariasan bahasa ini timbul
sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan
agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, variasi
bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan
disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.
Lebih sederhana, Sumarsana dan Partana mencoba mengelompokkan apakah
dua bahasa merupakan dialek atau subdialek atau hanya sekedar dua
variasi saja, dapat ditentukan dengan mencari kesamaan kosakatanya. Jika
persamaannya hanya 20 % atau kurang, keduanya adalah dua bahasa. Tetapi
kalau bisa mencapai 40%-60%, keduanya dua dialek; dan kalau mencapai
90% misalnya, jelas keduanya hanyalah dua variasi dari sebuah bahasa.
BAB III
PEMBAHASAN
BAGIAN I
1. Tata bunyi (fonologi)
Fonologi pada umumnya dibagi atas dua bagian yang meliputi :
a. Fonetik
Pengertian
Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran
yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan
bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia
b. Fonemik
Adapun Fonemik itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari bunyi-ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.
Kalau
dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan
oleh alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka
dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan,
bunyi-bunyi yang dapat mempunyi fungsi untuk membedakan arti.
2. Tata bahasa (kalimat)
Masalah
definisi atau batasan kalimat tidak perlu dipersoalkan karena sudah
terlalu banyak definisi kalimat yang telah dibicarakan oleh ahli bahasa.
Yang lebih penting untuk diperhatikan ialah apakah kalimat-kalimat yang
klita hasilkan dapat memenuhi syarat sebagai kalimat yang benar
(gramatikal). Selain itu, apakah kita dapat mengenali kalimat-kalimat
gramatikal yang dihasilkan orang lain. Dengan kata lain, kita dituntut
untuk memiliki wawasan bahasa Indonesia dengan baik agar kita dapat
menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal dalam komunikasi baik lisan
maupun tulis, dan kita dapat mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan
orang lain apakah gramatikal atau tidak.
Suatu pernyataan merupakan
kalimat jika di dalam pernyataan itu terdapat predikat dan subjek. Jika
dituliskan, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan
tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Pernyataan tersebut adalah
pengertian kalimat dilihat dari segi kalengkapan gramatikal kalimat
ataupun makna untuk kalimat yang dapat mandiri, kalimat yang tidak
terikat pada unsure lain dalam pemakaian bahasa. Dalam kenyataan
pemakaian bahasa sehari-hari terutama ragam lisan terdapat tuturan yang
hanya terdiri dari atas unsur subjek saja, predikat saja, objek saja,
atau keterangan saja.
3. Kosa kata
Dalam menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, kita dituntut untuk memilih dan
menggunakan kosa kata bahasa yang benar. Kita harus bisa membedakan
antara ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku, baik tulis maupun
lisan.
Ragam bahasa dipengaruhi oleh sikap penutur terhadap kawan
bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika
dituliskan). Sikap itu antara lain resmi, akrab, dingin, dan santai.
Perbedaan-perbedaan itu tampak dalam pilihan kata dan penerapan kaidah
tata bahasa. Sering pula raga mini disebut gaya. Pada dasarnya setiap
penutur bahasa mempunyai kemampuan memakai bermacam ragam bahasa itu.
Namun, keterampilan menggunakan bermacam ragam bahasa itu bukan
merupakan warisan melainkan diperoleh melalui proses belajar, baik
melalui pelatihan maupun pengalaman. Keterbatasan penguasaan ragam/gaya
menimbulkan kesan bahwa penutur itu kurang luas pergaulannya.
Jika
terdapat jarak antara penutur dengan kawan bicara (jika lisan) atau
penulis dengan pembaca (jika ditulis), akan digunakan ragam bahasa resmi
atau apa yang dikenal bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan
bicara, akan makin resmi dan berarti makin tinggi tingkat kebakuan
bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya,
makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
4. Ejaan
Dalam
bahasa tulis kita menemukan adanya bermacam-macam tanda yang digunakan
untuk membedakan arti sekaligus sebagai pelukisan atas bahasa lisan.
Segala macam tanda tersebut untuk menggambarkan perhentian antara ,
perhentian akhir, tekanan, tanda Tanya dan lain-lain. Tanda-tanda
tersebut dinamakan tanda baca.
Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar
pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta
bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga
meliputi hal-hal seperti: bagaimana memotong-motong suku kata, bagaimana
menggabungkan kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhan maupun antara kata
dengan kata. Pemotongan itu harus berguna terutama bagaimana kita harus
memisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak
memungkinkan kita menuliskan seluruh kata di sana. Kecuali itu,
penggunaan huruf kapital juga merupakan unsur penting yang harus
diperhatikan dalam penulisan dengan ejaan yang tepat.
Dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan peraturan bagaimana
menggambarkan lambing-lambang bunyi-ujaran dan bagaimana inter-relasi
antara lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa disebut ejaan.
5. Makna
Pemakaian bahasa yang benar
bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan
makna. Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak tepat digunakan kata-kata yang
bermakna konotatif (kata kiasan tidak tepat digunakan dalam ragam bahasa
ilmu). Jadi, pemakaian bahasa yang benar adalah pemakaian bahasa yang
sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.
Kriteria pemakaian bahasa yang
baik adalah ketepatan memilih ragam bahsa yang sesuai dengan kebutuhan
komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik apa yang dibicarakan,
tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau orang
yang akan membaca (kalau tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu,
bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan
logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita.
BAGIAN II
1. Bahasa Teratur dan Berpikir Teratur
Seseorang
akan dianggap berpikir teratur jika dalam kesehariannya ia biasa
berbahasa teratur. Hal itu tercermin dari kemampuannya menggunakan
bahasa yang baik dan benar.
Beberapa pertanyaan berikut ini dapat
membantu kita menilai tertib tidaknya bahasa yang kita gunakan,
misalnya, dalam tulisan kita.
Apakah setiap kata yang kita gunakan
sudah benar-benar kita pahami maknanya? Apakah kata yang mubazir, yang
tidak perlu, tidak kita gunakan?
Apakah hubungan antarkata dalam
kalimat dan antarkalimat dalam paragraf tidak menimbulkan tafsiran ganda
(ambiguitas)? Apakah hubungan antarkata dalam kalimat dan antarkalimat
dalam paragraf mengungkapkan hubungan antargagasan yang konsisten, yang
tidak saling bertentangan? Apakah kata sudah kita tulis dengan tepat dan
tanda baca kita gunakan dengan tepat pula? Jika kita jawab pertanyaan
itu dengan ya, kita telah menggunakan bahasa secara tertib. Berikut ini
contoh paragraf yang telah menggunakan bahasa secara lebih tertib.
Pandangan penduduk asli terhadap pendatang selalu bergantung kepada apa
yang menjadi tujuan kedatangan pendatang dan bagaimana kemampuan serta
perilaku pendatang itu. Bila pendatang itu datang dengan tujuan baik,
orang yang pintar, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan penduduk
asli, dan berkelakuan baik, maka masyarakat penduduk asli akan
menghormati dan mau bekerja dengannya.
2. Kerancuan Berbahasa
Kesukaran
itu antara lain disebabkan oleh pemakaian susunan kalimat yang tidak
teratur dan penyampaian pikiran atau gagasan yang tidak teratur pula.
Perhatikan kutipan berikut.
Di sekolah putra dan putri bangsa
dididik. Mereka agar memiliki pengetahuan dan keterampilan. Mereka agar
berbudi luhur. Mereka agar sehat jasmani dan rohaninya.
Kutipan itu
menggunakan sebuah kalimat yang dipenggal menjadi empat bagian kalimat.
Bagian pertama merupakan sebuah kalimat. Bagian kedua, ketiga, dan
keempat masing-masing merupakan suku kalimat, bukan merupakan sebuah
kalimat.
3. Kesejajaran Dalam Kalimat
Ketertiban bahasa yang
digunakan seseorang, misalnya dalam suatu karangan terlihat dalam
kepaduan susunan kalimat yang digunakannya. Unsur-unsur kalimat yang
digunakannya saling berhubungan secara padu dan dapat mengungkapkan
pikiran atau gagasan yang padu pula. Kepaduan susunan kalimat dapat
tercipta apabila kalimat disusun antara lain berdasarkan asas
kesejajaran bentuk bahasa.
Kesejajaran dalam kalimat berkaitan dengan
kesejajaran beberapa bentuk bahasa yang biasanya dihubungkan dengan
kata penghubung seperti dan, atau, bahwa, karena, dan yang dalam sebuah
kalimat.
4. Kesalahan ejaan
Ejaan turut menentukan kebakuan dan
ketidakbakuan kalimat. Karena ejaannya benar, sebuah kalimat dapat
menjadi baku dank arena ejaannya salah, sebuah kalimat dapat menjadi
tidak baku. Kesalahan ejaan biasanya terjadi pada: penggunaan tanda koma
yang salah, dan kesalahan penulisan sapaan.
5. Kesalahan Struktur Kalimat
Bentuk-bentuk
yang strukturnya sudah benar merupakan kalimat baku, sedangkan
bentuk-bentuk yang strukturnya masih salah merupakan kalimat tidak baku.
BAGIAN III
Ragam Bahasa
Berdasarkan
media yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa dapat
dibedakan atas ragam bahasa lisan yaitu bahasa yang dihasilkan dengan
menggunakan alat ucap (organ of speec) dengan fonem sebagai unsur dasar,
dan ragam bahasa tulis yaitu bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan
tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Berdasarkan pokok
persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas
bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya, ragam bahasa
ilmu, ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, dan ragam bahasa sastra.
Dilihat dari segi penuturnya, ragam bahasa dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Ragam Daerah/ Dialek
Sebagaimana
kita ketahui, bahasa Indonesia tersebar luas keseluruh Nusantara.
Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia itu menimbulkan perbedaan
pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang dipakai di suatu daerah berbeda
dari bahasa Indonesia yang dipakai di daerah lain. Misalnya, bahasa
Indonesia yang dipakai oleh orang yang tinggal di Denpasar berbeda dari
bahasa Indonesia yang dipakai di Jakarta.
2. Ragam Bahasa Terpelajar
Tingkat
pendidikan penutur bahasa Indonesia juga mewarnai pemakaian bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang
berpendidikan tampak jelas perbedaannya dengan bahasa Indonesia yang
digunakan oleh kelompok penutur yang tidak berpendidikan, terutama dalam
pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya, pidio, pilem,
komplek, pajar, dan pitamin.
3. Ragam Bahasa Resmi dan Ragam Bahasa tak Resmi
Ragam
bahasa dipengaruhi pula oleh sikap penutur terhadap kawan bicara (jika
lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika dituliskan). Sikap itu
antara lain resmi, akrab, dingin, dan santai. Demikian juga sebaliknya,
kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis
mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa
seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya atau
pimpinannya, atau bahasa perintah atasan kepada bawahan.
Kesalahan Diksi
Kesalahan
diksi ini meliputi kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kesalahan
pemakaian kata. Berikut dikemukakan beberapa diksi yang belum
dibicarakan pada bab sebelumnya.
1) Pemakaian Kata Tidak Tepat
Ada
beberapa kata yang digunakan secara tidak tepat. Kata dari atau
daripada sering digunakan secara tidak tepat, seperti yang terdapat
dalam contoh berikut.
Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas Bidang Usaha.
Kalimat
diatas itu seharusnya tanpa kata daripada karena kata daripada
digunakan untuk membandingkan dua hal. Misalnya, tulisan itu lebih baik
daripada tulisan saya. Di dalam kalimat berikut juga terdapat pemakaian
kata secara tidak benar.
2) Pemakaian Kata Berpasangan
Ada
sejumlah kata yang pemakaiannya berpasangan (disebut juga konjungsi
korelatifa), seperti, baik … maupun …, bukan … melainkan …, tidak …
tetapi …, antara … dan …. Di dalam contoh-contoh berikut dikemukakan
pemakaian kata berpasangan secara tidak tepat.
Pemakaian kata berpasangan tidak tepat
Baik pedagang ataupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.
Perbaikan
Baik pedagang maupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.
3) Pemakaian Dua Kata
Didalam
kenyataan terdapat pemakaian dua kata yang makna dan fungsi kurang
lebih sama. Kata-kata yang sering dipakai secara serentak itu, bahkan
pada posisi yang sama, antara lain ialah adalah merupakan, agar supaya,
demi untuk, seperti misalnya, atau daftar nama-nama.
Pemakaian dua kata yang tidak benar.
Peningkatan mutu pemakaian bahasa Indonesia adalah merupakan kewajiban kita semua.
Perbaikan
Peningkatan mutu pemakaian bahasa Indonesia adalah tugas kita bersama.
4) Kesalahan Ejaan
Di
dalam kenyataan pemakaian bahasa masih banyak kesalahan bahasa yang
disebabkan oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca.
Penyebabnya antara lain, ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian
tanda baca di dalam ejaan sebelumnya dengan ejaan yang berlaku sekarang.
Di dalam ejaan sebelumnya tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana
seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat
perhentian ssebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan inotasi naik. Hal
seperti itu sekarang tidak seluruhnya dapat dipertahankan. Misalnya,
antara subjek predikat terdapat jeda dalam membaca, tetapi tidak dipakai
tanda koma jika bukan yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan
aposisi.
Contoh:
Engkau sudah lulus?
Dia tidak ikut ujian?
Bandingkan dengan kalimat tanya yang berikut.
Contoh:
Apakah engkau sudah lulus?
Siapa yang tidak ikut ujian?
Berikut dikemukakan beberapa kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan pemakaian tanda baca, khususnya tanda baca koma.
a. Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat
Ada
kecenderungan penulis menggunakan tanda koma di antara subjek dan
predikat kalimat jika nomina subjek mempunyai keterangan yang panjang.
Pemakaian tanda koma itu tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh
tanda koma dari predikat kecuali pasangan tanda koma yang mengapit
keterangan tambahan atau aposisi.
Contoh :
Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharap mendaftarkan diri di sekretariat.
Tanah bekas hak guna usaha yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, akan ditetapkan kemudian pengaturannya.
b. Tanda Koma di antara Keterangan dan Subjek
Selain
subjek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal
juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subjek kalimat. Padahal,
meskipun panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu
pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar, seperti terlihat
dalam contoh berikut.
Dalam suatu pernyataan singkat di kantornya, pengusaha itu membantah bekerjasama dengan penyelundup.
Untuk keperluan belanja sehari-hari, mereka masih bergantung pada orang tuanya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
uraian singkat di atas maka kita bisa menarik kesimpulan/penulis
mencoba memberikan kesimpulan berdasarkan data-data dan fakta di
lapangan menunjukkan masih banyak orang-orang tidak memahami pemakaian
bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang
benar. Jadi dilhat dari fungsinya bahasa merupakan jantung dari
kehidupan ini karena tanpa bahasa kita tidak akan bisa berinteraksi
sesama yang lain.
Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia
harus bisa menjaga keaslian berbahasa Indonesia yang baik dan benar,
karena dipandangnya suatu bangsa itu tidak lepas dari bagaimana kita
menggunakan bahasa yang dapat dipahami atau mudah dimengerti oleh bangsa
lain. Mudah-mudahan urain singkat diatas dapat memberi sumbang sih bagi
pembaca, saran dan kritik yang sifatnya membangun selalu penulis
harapkan, demi kesempurnaan karya tulis saya ini yang berjudul ”
Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar”. Dan atas bimbingan dan
saran-saran bapak Dosen, saya ucapkan terimakasih.
A. Kritik dan Saran
Sebagai
warga Negara Indonesia yagn baik, kita hendaknya mempelajari bahasa
Indonesia dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya membiarkannya berkembang
begitu saja, kita bisa memulai dari diri kita sendiri dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita harus bisa mengetahui dimana
penggunaan bahasa yang baik dan penggunaan bahasa yang benar. Selain
itu bahasa Indonesia yang baik dan benar juga pasti akan kita gunakan
dalam bidang akademik maupun dalam bidang-bidang kehidupan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta : Gramedia.
Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.
Keraf, Gorys, Dr. 1991. Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Atas. Flores: Nusa Indah.
Sabariyanto, Dirgo.1999. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Mitra Gama Widya.
Sugono, Dendy. 1989. Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta : Priastu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar